Kamis, 07 Maret 2019

In a World Without Life - Prolog - Sebuah Cerita Sederhana


Translator & Editor: Mimin Rea

In a World Without Life
Prolog - Sebuah Cerita Sederhana


- Dan semua kehidupan lenyap.

Aku ingin menceritakan sebuah cerita hipotetis sederhana.
Suatu hari, saat kamu terbangun, kamu melihat lampu tidak menyala.
Berpikir bahwa itu adalah pemadaman listrik, kamu memeriksa sakelar listrik, tapi tidak membalik.
Matahari baru saja terbit, tapi tidak ada satu pun keluargamu yang berada di rumah tersebut.
Dan melihat situasi ini membuatmu cemas. Ketika kamu pergi keluar untuk mencarinya, misteri terus bertambah.
Pertama, tidak ada mobil yang lewat. Lampu lalu lintas bahkan tidak berfungsi.
Saat kamu pergi ke toko terdekat, kamu tidak menemukan satu pun jejak kehidupan, dan pintu otomatis tidak terbuka untukmu.
Dalam keadaan bingung, kamu kembali ke rumahmu untuk mengambil sepeda, dan menaikinya, kamu menuju ke stasiun. Seperti yang diharapkan, tidak ada satu mobil pun di jalanan, dan kamu tidak menemui seorang pun.
Bahkan setelah sampai di stasiun, kamu tidak menemukan siapa pun di sana.
Tempat itu adalah tempat yang kamu kenal, dan setiap hari, tempat itu ramai oleh orang-orang yang mondar-mandir.
Bahkan di tengah malam, taksi datang dan pergi, tidak pernah ada sesuatu yang sepi.
Kecemasanmu berubah menjadi ketidaksabaran. Kamu mengayuh sepedamu dari kota ke kota, mencari jejak kehidupan manusia.
Dan akhirnya, ketidaksabaranmu berubah menjadi kepasrahan.
Sebab, meski dengan panorama yang berganti, masih belum ada tanda-tanda orang lain.
Sebelum kamu menyadarinya, kamu telah melangkahkan kaki di Ibukota, Tokyo.
Tapi tetap saja, tidak ada manusia, dan kamu merasa haus. Perutmu mulai kroncongan.
Dengan merasa sedikit bersalah, kamu memasuki sebuah toko yang menarik perhatianmu, memberikan sejumlah uang dengan catatan di nota, dan mengambil beberapa minuman jus hangat serta Onigiri.
Setelah menyelesaikan sarapan pagimu, kamu mulai mendapatkan ketenanganmu.
Dirimu memutuskan untuk kembali ke kotamu sendiri ... rumahmu, kamu mulai mengikuti jalan yang kamu datangi.
Bus, kereta api, dan angkutan umum lainnya tidak berjalan, dan tetap saja, tidak ada tanda-tanda seseorang.
Tentu saja, ada mobil dan sepeda tergeletak di mana-mana.
Tapi seperti yang lainnya, isinya kosong, tak berawak.

Butuh lebih banyak waktu untuk pulang daripada pergi, tapi kamu sampai di rumahmu.
Seperti yang diharapkan, keluargamu tidak ada di sana.
Melihat rumah yang tiba-tiba kehilangan tuan tanahnya, bahkan untuk memikirkannya, kamu sudah lelah.
Saat ke kamarmu, tidak ada yang berubah sejak tadi pagi. Ini adalah ruangan biasa yang kamu kenal.
Karena lelah, kamu merobohkan diri ke tempat tidurmu.
Semua yang masuk ke dalam pikiranmu adalah situasi yang kamu hadapi, dan mimpi buruk.

Saat kamu bangun, cahaya pagi yang sama seperti kemarin menyambutmu memasuki kamarmu.
Dengan sedikit harapan, kamu melihat sekeliling rumahmu, tapi keluargamu tidak ada di sana.
Untuk sarapan pagi, kamu cukup menghabisi apapun yang ada di lemari es yang tidak berfungsi.
Kemarin, kamu diam-diam melewatkannya, tapi hari ini, kamu memutuskan untuk mengenakan seragammu, dan bersekolah.
Tidak ada yang melewatimu di jalanan yang kamu jalani setiap hari.
Dan tidak ada yang berubah saat kamu tiba. Saat kamu memasuki gedung sekolah, dan masuk ke kelasmu, kamu merasa hampa.
Itu biasanya ramai dengan teman sekelasmu; Tempat yang cukup hidup.
Kamu sampai lebih lama dari biasanya, dan sudah sekitar jam 10.
Ruang guru sama saja. Tidak ada orang di sana.

Setelah menyerah di sekolah, kamu mulai menyelidiki lingkungan sekitar.
Untuk menemukan jejak seseorang selain dirimu masih ada.
Tapi usahamu sia-sia saja.
Satu-satunya hal yang benar-benar kamu ketahui adalah bahwa semua toko tertutup, dan tidak ada satu orang pun yang ditemukan.
Kamu berbaring di tengah jalan raya, dan berpikir.
Kenapa semua orang pergi? Kenapa kamu satu-satunya?
Dan kamu mendapat satu ide.
Ini mungkin sedikit melenceng, tapi kamu memutuskan untuk melakukan tindakan ilegal.
Kamu berjalan ke rumah tetanggamu, yang mana telah berbuat baik kepadamu sejak kamu masih kecil.
Pintu depan terkunci, tapi jendela belakang masih terbuka.
Begitu kamu masuk, tentu saja, pemandangan rumah seseorang terbentang di depanmu.
Tapi tetap saja, tidak ada orang di sana.
Dan kamu memperhatikan.

- Beberapa set perlengkapan makan dan makanan disajikan di atas meja.

Cukup banyak waktu yang telah berlalu sejak makanan itu dimasak, sekarang sangat kering dan dingin.
Kamu tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan makanan untuk menjadi seperti ini.
Tapi kamu kira sudah sekitar dua sampai tiga hari.
Kekhawatiran menghampirimu mengalir seperti air terjun, dan kamu keluar dari rumah.
Kamu terus membobol setiap rumah di lingkungan sekitar, dan membuat kesimpulan.
Siapa saja yang meninggalkan tempat ini bukanlah kemauan mereka sendiri, suatu ketika, dengan sebab tertentu, mereka tiba-tiba terhapus dari kehidupan.

Dan hari-hari berlalu.
… Satu minggu. Satu minggu.
Selama tujuh hari, kamu mencari setiap sudut dan celah, dan mencoba mengumpulkan informasi.
Kamu membawa makanan yang kamu curi dari toserba di tangannmu seperti yang kamu duga.
Di tempat pembangkit listrik dan panel tenaga surya, kamu bisa menggunakan listrik.
Rumahmu bukan lagi tempatmu tumbuh. Kamu berpindah di antara rumah orang asing yang bisa menggunakan listrik.
Bukan berarti kamu tidak merasa bersalah.
Itu agar kamu ditangkap ... kamu berharap seseorang muncul untuk menangkapmu atas kejahatanmu.
Keinginanmu dengan kejam mengkhianatimu.

Kamu dengan cepat mengumpulkan barang-barang di kulkas yang rusak.
Dan tidak hanya ke dalam satu rumah saja, kamu melakukannya ke semua rumah dengan listrik yang masih berfungsi.
Kamu mendengar bahwa barang yang terbuat dari kalengan bisa bertahan bahkan sepuluh tahun setelah kadaluwarsa.
Tapi tetap saja, sejumlah besar makanan akan menjadi sangat buruk.
Setelah sekitar dua minggu, baunya mulai menyengat.
Bukan dari simpananmu, tapi dari seluruh kota.
Sampah yang telah dibuang. Bahan makanan di rumah. Kulkas yang tidak berfungsi.
Tapi kemampuan beradaptasi manusia memang ditakuti.
Di saat penuh tekanan, kamu akan bisa membiasakan diri.
Maka tiga minggu telah berlalu, dan ketika sudah sekitar satu bulan, kamu memperhatikan.
Bukan hanya manusia.
Di sekitar makanan yang busuk dan menghitam itu, tidak ada satu pun lalat yang beterbangan.
Saat kamu pergi ke toserba, kamu tidak menemukan seekor kecoa pun.
Tidak ada burung gagak yang terbang dilangit, dan bahkan setelah berjalan melewati hutan, kamu tidak melihat adanya tanda-tanda gigitan nyamuk.

Satu-satunya yang menyelamatkanmu hanyalah barang-barang olahan yang sedikit terbilang aman.
Mungkin sulit untuk mengkategorikan mereka sebagai kehidupan, tapi tanaman tetap hidup.
Akhirnya, kamu terbiasa hidup, dan memutuskan untuk melakukan satu tindakan saja.
Kamu akan mencari kehidupan selain dirimu sendiri.
Dari kantor pelatihan terdekat, kamu membawa mobil dengan buku petunjuknya, dan mulai belajar tanpa lisensi.
Beberapa hari kemudian, setelah menentukan bahwa kamu akan baik-baik saja, kamu memulai perjalanan dengan mobil.
Pada awalnya, kamu merasa sedikit ketakutan untuk menjalankan mobil, tapi itu akan dengan cepat memudar.
Tidak ada yang mengemudi di jalan yang berlawanan, dan tidak ada orang dimanapun. Lampu lalu lintas bahkan tidak berfungsi.
Ketika kamu kehabisan bensin, kamu tinggal pergi ke rumah terdekat, dan mengganti kendaraan yang lain.

Perjalananmu terus berlanjut.
Ini akan berlanjut sampai kamu menemukan kehidupan selain dirimu sendiri.

Perjalananmu terus berlanjut.
Tidak peduli berapa banyak waktu telah berlalu.

Perjalananmu terus berlanjut.
Satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, satu dekade.

Sampai kamu menemukan kehidupan ...
Sampai hidupmu berakhir ...
Tak terhingga, selamanya ...

Tentu saja, seperti yang aku katakan sebelumnya, semua ini hanyalah cerita hipotetis.
Tapi…

Jika seseorang seperti itu menemukan sebuah kehidupan ... jika mereka ingin bertemu dengan orang lain, maka wajah seperti apa yang akan mereka tunjukkan?



- Pasti ... pasti menjadi seperti ini.

Dihadapanku ada seorang gadis, mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya. Warna pakaiannya seperti silver.
Dari tudungnya, menutupi hampir seluruh wajahnya, rambut silver cerah yang terlihat seperti diselimuti cahaya.
Rupa wajahnya adalah cerminan seseorang yang telah lama menyerah namun kembali menyaksikan keajaiban. Dia meneteskan air mata bahagia, dan tersenyum lebar.

Fukametni temu met mawozamph ... Chnitch temu met mawozamph ...

Gadis itu memelukku seraya mengucapkan kata-kata asing.
Aku tidak bisa mengerti kata-kata yang dia ucapkan.
Tidak mungkin aku bisa menebak hatinya, pikiran, atau kegembiraannya.
Tapi aku bisa mengerti apa yang dia katakan.

Terima kasih telah terlahir ... terima kasih telah hidup ...

- Hari itu, di dunia tanpa kehidupan, aku bertemu dengannya.







Kamis, 11 Januari 2018

Kimi to Boku no Saigo no Senjo, Aruiha Sekai ga Hajimaru Seisen - Volume 1 Chapter 1 (Part 4)



Translator: Strea
Editor: Strea

Kimi to Boku no Saigo no Senjo, Aruiha Sekai ga Hajimaru Seisen
Volume 1 Chapter 1 (Part 4)

Sekitar 100 tahun yang lalu.

Di wilayah benteng 'Kekaisaran Surga'─

Negara besar yang biasa disebut ‘Kekaisaran', merebut hegemoni (kepemimpinan) dunia. Kekaisaran menjadi makmur di samping sebuah peradaban mesin yang canggih, tapi suatu hari, mereka mendekati 'rahasia bintang-bintang'. Sebuah tim survei geologi telah menemukan itu jauh di bawah tanah.

─ Energi yang tidak terduga yang dipancarkan dari dalam bintang, 'roh bintang'.

Hingga sekarang, tidak diketahui kenapa hal seperti itu tertidur di dalam bintang-bintang. Satu-satunya yang pasti, adalah bahwa manusia memiliki sifat untuk memiliki roh bintang. Pada awalnya, tim survei geologi yang dihujani roh bintang yang tidak terhujani. Dan setelah itu, para peneliti yang sedang mempelajarinya. Orang yang mempunyai roh bintang memiliki tanda lahir yang tidak dapat diidentifikasikan pada sebagian tubuh mereka, dan bersamaan dengan itu, mereka mendapatkan kekuatan yang mirip dengan sihir dari buku cerita. Tanda lahir yang mengerikan, dan kekuatan paranormal.

'... Monster.'

Para wanita yang memiliki roh bintang disebut 'penyihir (witches)', dan para pria 'ahli sihir (warlocks)'.

Penduduk Kekaisaran takut akan kekuatan yang begitu besar, dan tidak lama kemudian mereka mulai menganiaya orang-orang yang memiliki roh bintang.

Sebuah bendera revolusi melawan Kekaisaran.

Sang wanita muda yang dianugerahi roh bintang terkuat - Penyihir Agung Nebulis, mengubah Kekaisaran menjadi lautan api, dan kemudian mendirikan sebuah negara di mana orang-orang yang memiliki roh bintang bisa hidup di sana, Badan Rumah Kekaisaran Nebulis.

Mengumumkan bahwa roh bintang akan memberi kemungkinan baru bagi umat manusia, Badan Rumah Kekaisaran Nebulis menjadi terobsesi dengan balasan dendam yang tak tertahankan atas penganiayaan yang dialami nenek moyang mereka. Perang antara dua kekuatan utama dunia tidak menunjukkan tanda-tanda akan melemah (mereda) bahkan 100 tahun kemudian sampai saat ini.

"─Alice-sama."

Saat pelayannya menyentuh bahunya, gadis berambut pirang itu tiba-tiba tersadar.

"Apa kamu baik baik saja? Apa kamu merasa sakit? "

"Uun. Maaf, aku hanya sedikit memikirkan sesuatu. "

Sambil memperbaiki rambutnya yang berkibar karena tiupan angin yang kencang, gadis itu menoleh ke arah pembantunya.

Aliceliese Lou Nebulis IX─

Dia adalah seorang gadis cantik yang mengenakan pakaian kerajaan. Rambut pirangnya yang berkilau di bawah sinar matahari yang merambat seperti benang sutra, matanya yang berwarna rubi tampak indah dan bersemangat. Tubuhnya putih jernih seperti sebuah beling, dan wajahnya yang khas, kulit wajahnya yang indah, dan pipinya yang memerah membuat daya tarik seks yang elegan.

"Terima kasih, Rin. Tidak ada gunanya kalau aku tidak berkonsentrasi? "

"Tidak. Aku yakin ada hal yang harus dipikirkan Alice-sama, tidak ada masalah."

Yang membalas dengan senyuman yang sedikit dibuat-buat, adalah seorang gadis dengan rambut cokelat kecerahan yang terikat ke kiri dan kanan─Rin.

Rin Vispose.

Dia adalah seorang gadis yang merupakan anggota keluarga yang bertugas sebagai pembantu keluarga kerajaan Nebulis. Dia adalah pembantu dekat sang putri dari Badan Rumah Kekaisaran, Alice, dan satu-satunya orang yang bisa dia ajak bicara.

"Berapa lama lagi yang dibutuhkan?"

"Kami sudah melewati perbatasan. Yang tersisa hanyalah menuju ke depan. Seharusnya tidak lebih dari setengah jam."

Ketinggian mereka saat ini 2000 meter. Alice dan Rin mengendarai seekor burung besar dan aneh. Setiap kali burung aneh itu mengepakkan sayapnya, embusan angin akan bertiup dan menyebabkan rambut Alice dan pakaian kerajaannya berkibar kuat.

"Kita tidak tahu kapan penembak jitu dari Kekaisaran itu akan membidik kita. Hati-hati."

"Mereka sudah membidik kita."

Berbeda dengan pernyataan yang dipenuhi ketenangan, Alice diam-diam menggigit bibirnya.

"Aku sudah terbiasa dengan itu ... Berfokus pada senjata, dan dikutuk sebagai 'Penyihir Es Calamity'."

Penyihir Agung Nebulis yang mendirikan Badan Rumah Kekaisaran Nebulis. Alice adalah putri ke-2 Ratu saat ini dan merupakan orang yang memiliki hak penuh untuk mewarisi mahkota. Pada saat yang sama, dia dipuji sebagai bintang sihir kartu truf dari Badan Rumah Kekaisaran pada usia 17 tahun. Di Kekaisaran, mereka menggunakan kata-kata penghinaan seperti penyihir dan ahli penyihir, tapi setelah nenek moyang Alice menyatakan kemerdekaan dari Kekaisaran, mereka memberi nama penyihir bintang.

"Rin, targetku sama seperti biasanya?"

"Iya. Ini adalah penghancuran pangkalan (pusat) yang telah dibangun Kekaisaran di garis depan."

Rin berbicara saat rambut terikatnya berkibar dengan kuat.

"Kita telah menerima informasi dari rekan-rekan kita yang berjuang di garis depan bahwa Kekaisaran sedang membangun sebuah model baru dari senjata tenaga reaktor. Jika mereka menyelesaikannya, mereka akan bisa memberikan senjata jarak menengah secara sepihak ke pangkalan itu, dan kita tidak punya pilihan selain mundur."

"Mudah untuk menghancurkannya sebelum mereka selesai membangunnya, tapi ... apa itu buruk bagi kita untuk terus bergerak maju dan masuk ke wilayah Kekaisaran? Meskipun itu mudah bagi kita."

Itu adalah asal rasa tidakpuas Alice. Setelah memahami roh bintang yang sangat kuat di antara semua penyihir bintang, dia memiliki cukup kekuatan untuk mengubah situasi perang seorang diri. Tapi, ibunya Ratu memerintahkan hanya untuk menghancurkan pangkalan tersebut, dan kemudian segera kembali setelah menghancurkannya.

"Kenapa ibu tidak mau menyetujuinya, aku heran? ... Meskipun ada penyihir bintang lain bersamaku ..."

"Yang Mulia Ratu pasti sangat mencemaskanmu."

Rin mengangkat tangannya ke mulutnya dan tiba-tiba mulai tertawa.

"Alice-sama adalah calon Ratu berikutnya. Sebenarnya, daripada menyerang kamp musuh, kamu harus belajar bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Apa dia tidak mengatakan untuk pergi bermain dan bukannya menyetujui peperangan, dia ingin kamu belajar sebanyak mungkin di dalam benteng? "

"Kamu harus pergi dari kebosanan seperti itu. Aku bisa belajar bagaimana menjadi pemimpin yang baik setelah dunia berdamai."

"Tentu, aku juga berpikir bahwa kamu benar."

"Benar?"

Alice membalas senyuman Rin saat dia mengangguk. Tapi, dia segera menghapus senyumnya dari wajahnya, dan Alice dengan tenang membuat sebuah pernyataan untuk dirinya sendiri dengan tekad yang teguh.

"Yang pertama adalah meruntuhkan Kekaisaran. Aku akan meruntuhkan negara itu, dan menciptakan dunia di mana tidak ada yang akan dianiaya."

Tanah merah terbentang di atas dataran. Jauh disana, sebuah hutan besar yang terselimuti cakrawala mulai terlihat.




Sebelumnya / Daftar Isi / Selanjutnya



Jumat, 05 Januari 2018

Kimi to Boku no Saigo no Senjo, Aruiha Sekai ga Hajimaru Seisen - Volume 1 Chapter 1 (Part 3)


Translator: Strea
Editor: Strea

Kimi to Boku no Saigo no Senjo, Aruiha Sekai ga Hajimaru Seisen
Volume 1 Chapter 1 (Part 3)


Kawasan kedua dari Ibukota Kekaisaran.

Di dalam Ibukota Kekaisaran yang dikelilingi oleh dinding baja yang kokoh, kawasan inilah yang memperlihatkan perusahaan (bisnis) yang paling sejahtera. Di restoran 'Powder Base' yang terletak di sudut depan plaza─

"Nene-chan, di mana kita bisa duduk?"

"Nene-chan, makanan yang kita pesan belum sampai."

"Nene-chan─"

"Ya! Ya! Aku akan segera ke sana! "

Sambil menelan beberapa roti yang telah digigitnya untuk makan siang, Nene berdiri dengan kebingungan. Mengenakan celemek karyawannya dengan tergesa-gesa, dia berlari menghampiri banyak pelanggan di restoran yang sedang ramai.

Nene Alkastone─

Rambutnya merah tebal dengan ikatan ponytail, mata biru besar serta senyuman cerah dan ceria. Dia adalah seorang gadis berusia 15 tahun yang memberikan kesan keceriaan. Yang ketat di tubuhnya yang segar adalah tank top yang digunakan untuk berkerja dan hot pants yang menampakkan paha atasnya. Pakaian sporty semacam itu sangat cocok untuknya.

"Iya! Yaaa! Pelanggan yang terhormat, apakah kamu... Ah! "

Seorang anak laki-laki berambut perak berdiri di pintu masuk restoran. Setelah melihat sosoknya, Nene menjadi bersemangat dan bergegas menghampiri dia.

"Jhin-nii-chan !? Wawaa, itu membuatku bahagia. Apa kamu datang untuk menemui Nene? "

"Kita baru bertemu beberapa waktu yang lalu."

"Eeeh? Lalu apa kamu seorang pelanggan? Jika itu yang terjadi, kamu menunggu sekitar satu jam dan pelanggan seharusnya berkurang dan tidak akan terlalu ramai sehingga akan menimbulkan perasaan senang. Hari ini spesial, ummm. "

"Sayangnya, aku sudah makan."

Menanggapi tatapan Nene yan tajam, anak laki-laki itu membalas dengan nada yang tenang dan tidak peduli.

Jhin Syulargun.

Dia adalah seorang anak laki-laki dengan rambut perak yang berdiri dibelakangnya, mata abu-abu tajam dan sosok yang maskulin. Dia mengenakan pakaian tempur abu-abu yang ditenun dengan serat optik dan memiliki peti (kotak) senapan untuk senapan snipernya yang tersampir (menggantung) di bahunya.

"Jadiii, kenapa kamu datang ke sini hari ini?"

"Sebuah pesan."

"Heh?"

"Orang itu dibebaskan. Saat ini, dia kembali ke asrama lagi setelah setahun lamanya dan segera melakukan persiapan."

Setelah mendengar kata-kata Jhin, Nene membiarkan tatapannya berkeliaran kesana-sini sesaat (sedang berpikir), dan lalu ...

"… AH!"

Matanya mulai bersinar saat memikirkan seseorang.

"Kamu tidak tahu."

"Itu Iska."

"KAMU BERCANDAAAAA !? Eh, benarkah kamu tidak berbohong kan? "

Melupakan kalau suaranya akan bergema di dalam restoran, Nene berteriak.

"Kalau kamu punya waktu untuk senang, maka bersiaplah."

"Aku tahu, dengan bersiap-siaplah kamu bermaksud merayakannya?"

Nene mulai melompat-lompat dengan gembira, tapi nada Jhin tetap benar-benar singkat.

"Kita akan berangkat pada tengah malam dan membawa kendaraan pengangkut (sj. mobil) ke garis depan."

"... heh? Kendaraan pengangkut. Garis depan?"

"Kita sedang dikirim."

"EH !? Tunggu sebentar Jhin-nii-chan! Nene sudah bekerja paruh waktu sampai malam nanti!"

"Menyerah saja. Ini melampaui mimpi anehmu untuk melakukan pekerjaan yang benar."

Saat dia mengeluarkan napas yang seperti desahan (keluhan), Jhin membelakanginya.

"Selama perang tak berguna antara Kekaisaran dan Badan Rumah Kekaisaran Nebulis ini berlanjut."

|||||||||||

Pintu gerbang militer ibukota kerajaan.

Seiring kegelapan mulai menyelimuti Ibukota Kekaisaran, penerangan dari menara pengawas bersinar (menyorot) dengan menyilaukan di depan pintu gerbang besar. Melihat ke langit dari tanah di sebelahnya, cahaya bintang yang redup bisa terlihat berkedip-kedip dari kejauhan.

"Dingin."

Angin malam yang dingin menembus tengkuknya.

"... Sama saja dengan matahari pagi, tapi sudah setahun sejak aku melihat langit berbintang seperti ini."

Muncul kerah jaket windbreaker yang digunakan untuk pertempuran*, Iska mengoceh sambil tersenyum pahit. Dia mengira tidak akan pernah melihat matahari pagi atau bintang-bintang lagi.
[TN: jujur ane gak ngerti maksudnya apaan; windbreaker = jaket anti-angin]

"Tapi saat aku keluar, aku menuju ke sebuah pertempuran hidup atau mati, aku mungkin menyesalinya karena lebih aman untuk tetap dipenjara selama sisa hidupku ... benar!"

Iska mengangkat ransel yang dibawanya ke bagian belakang kendaraan pengangkut. Meskipun tas ransel itu mengeluarkan bunyi gedebuk yang mengesankan, barang bawaan Iska tergolong ringan. Satu-satunya senjata yang dia bawa adalah pedang di pinggangnya. Selain itu ada perlengkapan medis dan peralatan komunikasi kecil. Seorang penembak jitu harus menambahkan peralatan untuk mempertahankan senapan mereka dan juga sejumlah besar amunisi, dan seorang petugas intelijen harus membawa peralatan komunikasi berskala besar.

"Ayo kita lihat, waktunya adalah"

"Masih ada 4 menit 30 detik sampai waktu pertemuan yang telah ditentukan."

Saat Iska menoleh kebelakang, dia melihat sosok seorang anak laki-laki dengan rambut perak yang  diterangi oleh lampu jalan. Penembak jitu membawa sebuah senapan di atas bahu kirinya.

"Hei, Jhin. Kau menyelamatkanku sore ini dengan menghubungi Nene dan Kapten Mismis."

"Aku sudah terbiasa dengan permintaan mendadakmu itu. Sama seperti saat kau terlalu berlebihan sehingga menyebabkan kejadian membebaskan penyihir tahun lalu."

"Uu ... I-itu sebabnya aku minta maaf pagi ini."

"Tindakanmu terlalu naif. 'Tidak peduli apa yang kau lakukan, lakukanlah dengan cara yang pasti. Jika kau tidak mengharapkannya benar-benar yakin, tunggulah saat yang tepat. 'Meskipun Guru telah sering memberitahukanmu ini... "

Sambil mendesah lega, Jhin menarik tasnya ke mobil.

"Mereka berdua terguncang (terkejut) saat tahu kau ditangkap dengan begitu mudahnya."

"Maksudmu Nene dan Kapten Mismis?"

"Bagaimanapun, mereka lebih senang mendengar pembebasanmu. Beginilah, berbicara tentang orang malang."

Melihat kearah yang ditujukan mata Jhin, sebuah kilatan lampu dimatikan dengan momentum yang mengerikan. Itu adalah kendaraan kecil yang menerbangkan debu-debu pasir. Dan kemudian suara mengerem yang keras berdering di udara malam yang mana banyak tentara seharusnya sudah tertidur lelap.

"ISKA-NII, SELAMAT KAMUU BEBASSS!"

Tepat saat kendaraan kecil itu berhenti, seorang gadis rambut ponytail merah melompat keluar dari kendaraan itu.

"SELAMAT SELAMAT SELAMAT────────!"

"Nene!?"

Iska menangkap Nene saat dia terjun dan memeluknya.

"Kau tidak harus sebegitu bahagianya tentang hal ini ... Yah, aku juga merasa bersalah karena khawatir denganmu."

"Uun, itu bukan kesalahan Iska-nii. Lebih penting lagi, syukurlah."

Nene terisak saat dia menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Apa kamu mengerti betapa Nene mengkhawatirkan Iska-nii!? Aku bahkan tidak bisa menelan makanan dengan benar selama sebulan, aku kehilangan sebanyak 3 kilo yang kamu tahu?"

"Tapi, sebagai balasannya, kamu mendapatkan 5 kg daging panggang saat pesta."

"Bagaimana Jhin-nii-chan tahu tentang itu!?"

Saat Jhin berbicara dengan nada tidak sadar, Nene menoleh kebelakang.

"... Ah, sepertinya Kapten juga ada di sini. Oooooi, Kapten! Disini! Disini!"

Nene melambaikan tangannya ke arah distrik perbelanjaan. Meskipun malam itu sangat sepi, lampu kota yang mempesona menyuguhkan latar belakang saat seorang gadis mengenakan seragam pertempuran Kekaisaran berlari di jalan menuju ke arah mereka.

"S-s-semuanya── ... Haa ... Haa ... M-maaf, aku terlambat ..."

"... kamu berjalan lambat seperti biasa ya."

Jhin mendesah putus asa. Apa karena tasnya berat, atau apa karena staminanya kurang? Langkah kaki gadis itu saat berlari sangat sempoyongan (goyah) sampai pada titik di mana rasanya dia akan jatuh setiap saat.

"Jhin, Kapten seperti biasanya?"

"Tidak ada perubahan. Dalam arti buruk."

Gedebuk.

"Ah, dia jatuh."

 

Nene bergumam dengan cepat pada dirinya sendiri.

Di tanah yang benar-benar bersih bahkan tanpa kerikil satupun, dia terjatuh. Tapi meski begitu, dia berdiri kembali - atau begitulah pikir mereka, entah kenapa dia langsung berjongkok di tempat.

"... *mengendus*. Maaf ... kenapa, aku jadi canggung aku heran? Bahkan bawahan dan atasanku selalu marah kepadaku. Mungkin, aku tidak cocok berada di militer? Benar? Mr. Street Light? Tidakkah Mr. Street Light juga berpikir begitu? "

Untuk beberapa alasan, gadis itu sedang berbicara dengan lampu jalan tepat di depannya.

"... Mungkin sebaiknya aku berhenti."

"Jangan berhentiiii!?"

Saat gadis itu membuat pernyataan yang bergejolak dengan kepasrahan, Iska berlari menghampirinya dengan terburu-buru.

"Kau tidak bisa kembali Kapten! Sebenarnya, apa kau biasanya patah hati setelah sampai sejauh ini!? "

"Ah, Iska-kun."

Mendengar Iska memanggilnya, ekspresi gadis mungil itu tiba-tiba menjadi cerah. Dengan perawakannya yang lebih kecil ketimbang Nene, senyumnya meluap dengan pesona kekanak-kanakan. Dia memiliki rambut biru pucat yang diikat dengan pita dan poni rambut yang bergelombang (keriting). Kulitnya bagus dan mulutnya kecil. Dia melepaskan kesan anak yang sangat menggemaskan.

"Waa, sudah lama sekali. Tidakkah kamu tumbuh sedikit lebih tinggi?"

"Aku-begitu?"

"Unun. Aku juga minum susu setiap hari agar aku bisa tumbuh lebih tinggi, tapi kukira pada akhirnya seorang gadis kecil sepertiku tidak bisa menang kalau soal tinggi huh."

"Ada apa dengan gadis kecil itu? Meski sudah berumur."
"Apa yang kau katakan Jhin-kun!?"

Jhin dengan tak peduli memotong pembicaraan mereka saat dia mengangkat alis ke arah gadis mungil itu ... Tidak, wanita itu.

Kapten Mismis Klass- dia tampak lebih muda dari Nene yang berusia 15 tahun, tapi kenyataannya dia adalah yang paling tua di antara mereka.

"Aku masih 22 kau tahu ~. Beberapa hari yang lalu aku bahkan masuk ke bioskop membayar tarif karcis anak-anak! "

"... Kapten, bukankah sebaiknya kamu membayar tarif orang dewasa untuk kasus itu?"

"Aah, tapi itu agak membuatku bahagia."

Mismis menyeka air matanya yang keluar dengan ujung jarinya.

"Iska-kun adalah anak yang jujur dan baik seperti biasa. Nene-chan telah menjadi lebih manis dan lebih cantik. Dan bahkan bibir kotor Jhin-kun entah bagaimana serasa nostalgia, hari ini setidaknya."

"Oi, tunggu sebentar"

"Setelah satu tahun penuh, ini adalah reformasi Divisi Pertahanan Divisi 3 907!"

Tidak menyadari bahwa Jhin memiliki sesuatu yang ingin dia katakan, Kapten Mismis dengan penuh semangat mendorong tinjunya ke udara.

"Mm? Mm? Aku mendengar tentang perintah pengiriman tiba-tiba, tapi seperti apa misi saat ini? "

"Mengalahkan penyihir. Semua itu adalah Divisi Pertahanan ke 3, benar? "

"Eh?"

Atas jawaban Jhin yang singkat, Mismis tiba-tiba berhenti bergerak.

"Targetnya adalah keturunan langsung Penyihir Agung Nebulis, sebuah 'purebred' - jika aku mengatakan bahwa itu adalah Penyihir Es Calamity, maka Kapten harus mengerti. Ini kesempatan besar yang muncul  baru-baru ini."

"Penyihir Es Calamity (bencana)!?"

Tidak lama setelah berteriak, wajahnya menjadi putih seperti selembar kertas dan dia mulai gemetar saat giginya berdegup kencang.

"I-I-I-Iska-kun, apa itu benar!?"

"Iya. Tampaknya alasan aku dibebaskan adalah untuk menangkap penyihir bintang itu."

"... Achaa ..."

Kapten muda itu pergi meninggalkannya.
(mungkin berpindah tempat maksudnya)

"Iska-kun, itu, kamu telah diatur (setting) oleh Delapan Grand Apostles ..."

"Apa maksudmu?"

"Di tempat pertama, Penyihir Es Calamity adalah penyihir bintang yang muncul setelah Iska-kun dipenjara, jadi kamu tidak tahu tentang dia ya."

Dengan ekspresi yang benar-benar tegang, Mismis terus berbicara.

"Pertama kali dia muncul di garis depan Yubel utara, kupikir. Dia menerobos garis depan itu sendirian dan kembali tanpa cedera (luka). Tiga bulan yang lalu ketika dia muncul di dataran Vuiril, para Holy Apostles dikirim, tapi mereka tidak dapat menangkapnya. Masih belum banyak informasi, tapi rumor mengatakan  sepanjang sejarah dia adalah penyihir bintang terkuat. Benar, Jhin-kun?"

"Tapi sebaliknya, mereka juga tidak tahu tentang tentara yang dikenal sebagai Iska."

Jhin mengangkat dan membenarkan pengikat yang mengusung senapannya di bahunya.

"Entah itu nasib baik atau buruk, tidak banyak informasi tentangnya yang telah sampai ke Badan Rumah Kekaisaran Nebulis. Setelah naik ke Holy Apostles, kau tidak pernah muncul di medan perang satu kali pun dan diturunkan ke tentara peringkat rendah setelah itu. Dari sudut pandang mereka, mereka melihatmu sebagai barisan dan simpanan saja, tapi saat mereka membuka matanya dan melihat, mereka akan diserang dengan kekuatan yang sejajar dengan para Holy Apostles. Dengan kata lain"

"Kita bisa menangkap mereka karena lengah?"

"Mungkin itulah yang diperkirakan oleh Delapan Grand Apostles. Karena itu, mereka bergantung padamu setelah kamu dipenjara, bahkan kesempatan besar kiranya sangat merugikan apa yang harus dilakukan mengenai hal itu."

"Penyihir Es Calamity huh ..."

Dengan angin kencang yang menghembus punggungnya, Iska masuk ke bagian belakang kendaraan pengangkut.

"Iska-nii, kita sudah mau pergi?"

Orang yang duduk di kursi pengemudi dengan semangat tinggi adalah Nene. Dia memegang kontrol dengan kuat dengan satu tangan dan tangan satunya sudah menggenggam alat komunikasi.

"Ini adalah Unit Divisi ke-3 907. Sekarang berangkat ~! Ayo Kapten Mismis, masuk, masuk."

"Wawaa, tunggu sebentar Nene-chan!"

Skuad Kapten melompat ke kendaraan pengangkut yang menjadi panik.

"I-Iska-kun, a-apa kamu benar-benar mengikuti misi ini ...?"

"Tentu saja. Bagiku, ini adalah kesempatan."
                                                                                                           
Melewati pintu keluar dari wilayah Kekaisaran dengan kecepatan tinggi, mobil lapis baja itu menyusuri jalan berpasir. Melihat kembali cahaya remang-remang dari Ibukota Kekaisaran melalui dua jendela kaca lipat, Iska mengangguk sedikit, dan pasti tegas.

"... Iska-kun, mungkinkah kamu akan kembali ke penjara jika kamu gagal dalam misi ini?"

"Aku tidak yakin (terlalu) memikirkannya."

Iska memberikan senyuman pahit untuk pertanyaan yang diajukan Mismis.

"Untuk menghentikan perang tak berguna ini. Satu tahun yang lalu dan bahkan sekarang, itu saja yang  aku pikirkan. "